15 April 2008

Penggunaan Dyna Bolt Pada Kansteen di Proyek Lintasan Busway (Lanjutan)

Telah tertulis dalam blog ini 4 bulan yang lalu. Bahwa penggunaan Dyna Bolt pada kansteen di lintasan Busway tidak efektif dan menunjukan ketidak adaan standar mutu atau pengawasan mutu dalam proyek busway.

Semua lebih berkesan "Asal Proyek Selesai". Dengan standard mutu mana, saya juga tidak mengerti. Bagaimana dengan metode jaminan mutu and estimasi evaluasi durasi (ketahanan) material tersebut. Entah kenapa hal ini yang sepertinya sepele tapi memberikan jaminan kualitas yang terpadu

Dapat Anda lihat di sepanjang jalur Iskandarsyah sampai Kalideres bahwa semua kansteen sudah rusak diterjang mobil atau bis dari lajur kiri ke kanan atau pun sebaliknya. Ketidak adaan riset dan perencanaan yang matang membuat ketidak efektifan dalam pemilihan metoda yang dipasang. Memang sudah jadi rahasia umum bahwa proyek Busway dilaksanakan tanpa perencanaan dan riset terlebih dahulu. Setidaknya penggunaan Dyna Bolt ini menguatkan prejudis tersebut. Agak lucu memang.

Dalam perumusan Anggaran Daerah, memang sudah dianggarkan perhitungan perawatan fasilitas umum. Namun jika semua fasilitas umum hanya bertahan 4 bulan dan Anggaran yang dianggarkan dalam Tahunan, ada berapa banyak fasilitas umum yang akan dibiarkan rusak. Seperti jalan umum, jalan raya, penerangan jalan dan sebagainya. Sampai kapan metoda pemikiran seperti ini terus, sedangkan tingkat kualifikasi penerimaan Pegawai Daerah maupun Pegawai Negeri naik setiap Tahun. IP-nya diatas 3, Universitas Ternama di Indonesia, mempunyai track record/ Surat Kelakuan Baik, namun hasilnya tetap saja dari tahun ke tahun. Sudah saatnya bagi yang terlibat dalam pembuatan dan perawatan fasilitas umum untuk lebih memikirkan Hasil, bukan hanya BerHasil.

Bagaimana menurut Anda? Apakah perlu diam saja melihat fasilitas umum kita rusak tiap 4 bulan? Sampai kapan?

03 Januari 2008

Perbedaan Developer Bonafid dan Tidak

Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam mencari rumah baru idaman. Ada yang melihat dari segi lokasi, dari segi harga, dari segi pembiayaan (kredit) tapi ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah dari segi kredibilitas si pengembang (developer).

Banyak sekali orang awam yang tidak melihat dari segi ini. Karena pengembang yang bonafid, mereka ada mutu yang harus dijaga untuk menjaga pelanggan mereka untuk selalu puas. Namun bagaimana mencari tahu bahwa pengembang tersebut menerapkan sistem manajemen mutu yang baik? Ada salah satu cara yang gampang untuk diperhatikan. Yakni penggunaan jasa kontraktor pada pengembang tersebut. Terlebih kontraktor yang bukan "saudara" dari pengembang, sehingga akuntanbilitas manajemen kualitas dapat dipertanggung jawabkan.
Bandingkan dengan pengembang yang langsung menangani sendiri proses pekerjaan pembangunan rumah-rumahnya. Dan mereka menggunakan jasa mandor-mandor berbasis kedaerahan biasa, yang biasanya hanya menyediakan dan menyupli tenaga kerja/ buruh kasar bukan menyelesaikan rumah secara baik dan benar. Jika mandor yang mengerjakan, akan lebih ke "yang penting selesai". Mereka mengerjakan secara borongan dibayarkan atas pekerjaan mereka berdasarkan berapa banyak rumah yang dapat mereka selesaikan. Bukan berdasarkan progress dan mutu yang baik dan tanpa manajemen proyek yang baik.

Cara agar kita dapat melihat bila perumahan tersebut menggunakan jasa kontraktor atau tidak, yakni saat kita melihat atau berkunjung dilapangan. Dianjurkan untuk berdialog langsung dengan pelaksana atau mandor setempat untuk mengecek dari perusahaan mana atau mandornya siapa. Hal ini jarang dilakukan para calon pembeli karena merasa risih ataupun ragu. Padahal dengan cara ini, pembeli bisa tahu kualitas rumah-rumah yang ada didaerah tersebut baik atau tidak, secara studi kasus pembangunan 1 rumah, pasti tidak akan berbeda jauh dengan rumah yang akan dibangun. Karena merupakan sebuah proyek pengulangan saja.

Oleh sebab itu, dimohon untuk mulai bertanya-tanya pada mandor atau pelaksanaa lapangannya. Dari ini Anda bisa menjadikan biasan akan kualitas rumah yang akan Anda beli.

Bagaimana menurut Anda??

14 Desember 2007

Penggunaan Dyna Bolt Pada Kansteen di Proyek Lintasan Busway

Sungguh menggelikan penggunaan dynabolt dalam pemasangan kansteen pada proyek Busway di jalan panjang dan Sultan Iskandasyah.

Karena semua insinyur pasti mengerti bahwa penggunaan dynabolt yang mempunyai sifat "tahan tarik tapi tidak tahan geser" sangat tidak cocok untuk dipasangkan pada kansteen tersebut. Sedangkan kansteen itu mengalami penggeseran akibat gesekan dan desakan gaya samping dari ban-ban kendaraan yang mengenai kansteen tersebut. Dapat dipastikan keberadaan kansteen tersebut tidak akan berlangsung lama. Perawatan perhari atas pengganti Kansteen yang rusak akibat tergeser dari tempatnya oleh desakan ban-ban kendaraan tidak dapat dielakan. Apalagi jika dilihat dari segi financial dan ke-percuma-cuma-an yang sangat tinggi.

Bentuk kansteen yang mempunyai sudut pada bagian bawahnya, membuat groutingan tidak masuk secara penuh akan berakibat gampang retak pada ujung-ujung beton. Seharusnya dibuat "Chamfer" pada bagian bawah/ dasarnya sehingga jika ada penekanan penuh dari titik sebelah atas, maupun penggeseran dari samping tidak mempengaruhi kondisi beton kansteen, tapi hanya groutingannya saja yang harus dirawat (diisi dan diganti dengan groutingan baru). Gampang dilakukan grouting tidak menyusahkan si tenaga kerja dan lebih cepat, awet pada beton kansteen tersebut.

Hal ini seharusnya sudah bisa dibaca dan diramalkan oleh insiyur-insinyur yang menjadi bagian dari tim proyek busway koridor jalan Panjang dan Sultan Iskandarsyah tersebut.

Bukan begitu??