Penggunaan Dyna Bolt Pada Kansteen di Proyek Lintasan Busway (Lanjutan)
Telah tertulis dalam blog ini 4 bulan yang lalu. Bahwa penggunaan Dyna Bolt pada kansteen di lintasan Busway tidak efektif dan menunjukan ketidak adaan standar mutu atau pengawasan mutu dalam proyek busway.Semua lebih berkesan "Asal Proyek Selesai". Dengan standard mutu mana, saya juga tidak mengerti. Bagaimana dengan metode jaminan mutu and estimasi evaluasi durasi (ketahanan) material tersebut. Entah kenapa hal ini yang sepertinya sepele tapi memberikan jaminan kualitas yang terpadu
Dapat Anda lihat di sepanjang jalur Iskandarsyah sampai Kalideres bahwa semua kansteen sudah rusak diterjang mobil atau bis dari lajur kiri ke kanan atau pun sebaliknya. Ketidak adaan riset dan perencanaan yang matang membuat ketidak efektifan dalam pemilihan metoda yang dipasang. Memang sudah jadi rahasia umum bahwa proyek Busway dilaksanakan tanpa perencanaan dan riset terlebih dahulu. Setidaknya penggunaan Dyna Bolt ini menguatkan prejudis tersebut. Agak lucu memang.
Dalam perumusan Anggaran Daerah, memang sudah dianggarkan perhitungan perawatan fasilitas umum. Namun jika semua fasilitas umum hanya bertahan 4 bulan dan Anggaran yang dianggarkan dalam Tahunan, ada berapa banyak fasilitas umum yang akan dibiarkan rusak. Seperti jalan umum, jalan raya, penerangan jalan dan sebagainya. Sampai kapan metoda pemikiran seperti ini terus, sedangkan tingkat kualifikasi penerimaan Pegawai Daerah maupun Pegawai Negeri naik setiap Tahun. IP-nya diatas 3, Universitas Ternama di Indonesia, mempunyai track record/ Surat Kelakuan Baik, namun hasilnya tetap saja dari tahun ke tahun. Sudah saatnya bagi yang terlibat dalam pembuatan dan perawatan fasilitas umum untuk lebih memikirkan Hasil, bukan hanya BerHasil.
Bagaimana menurut Anda? Apakah perlu diam saja melihat fasilitas umum kita rusak tiap 4 bulan? Sampai kapan?


